Bawang Sakti Jaya, 27 Mei 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Kampung Bawang Sakti Jaya, Kepala Kampung Supriyono menggelar sebuah pertunjukan budaya yang sangat bermakna: Wayang Kulit Semalam Suntuk. Kegiatan ini bukan hanya sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai wujud pelestarian budaya leluhur dan penguatan identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Acara yang digelar di Lapangan Kampung Bawang Sakti Jaya tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh warga. Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, tumpah ruah memadati area pertunjukan sejak sore hari. Tak hanya warga lokal, acara ini juga dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai instansi dan desa tetangga.
Melestarikan Budaya, Menghidupkan Jiwa Kampung
Dalam sambutannya sebelum pertunjukan dimulai, Kepala Kampung Supriyono menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal, terutama di era globalisasi yang seringkali menggerus nilai-nilai tradisional. Pertunjukan wayang kulit ini, menurut beliau, adalah salah satu bentuk nyata dari komitmen kampung untuk menjaga warisan budaya nenek moyang.
“Wayang kulit bukan sekadar hiburan. Ia adalah media pendidikan, sarana dakwah, serta cermin kearifan lokal kita. Lewat wayang, kita belajar tentang budi pekerti, kepemimpinan, dan filosofi hidup. Di usia Kampung Bawang Sakti Jaya yang ke-46 ini, mari kita terus jaga dan hidupkan nilai-nilai luhur tersebut,” ujar Supriyono dalam pidatonya.
Dalang Lokal Angkat Kisah Moral
Pada malam itu, pertunjukan wayang kulit dibawakan oleh dalang muda berbakat dari Lampung, Ki Mulyono, yang menyuguhkan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”—sebuah kisah yang mengangkat tema tentang kesetiaan, pengabdian, dan pentingnya pemimpin yang bijaksana. Cerita tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang membutuhkan contoh teladan dalam kehidupan sosial dan berbangsa.
Ki Mulyono tidak hanya menyuguhkan alur cerita yang menarik, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan moral, ajakan menjaga persatuan, serta pentingnya pendidikan dan kerja keras dalam menghadapi tantangan zaman. Suasana makin meriah dengan iringan gamelan tradisional dan sinden yang membawakan tembang-tembang Jawa penuh makna.
Dukungan Masyarakat dan Antusiasme Generasi Muda
Tak sedikit warga yang mengungkapkan rasa bangganya terhadap inisiatif pemerintah kampung dalam mengangkat kembali seni wayang kulit. Bagi sebagian besar orang tua, pertunjukan ini menghadirkan nostalgia, sementara bagi generasi muda, acara tersebut menjadi kesempatan belajar dan mengenal budaya tradisional secara langsung.
“Kami sangat senang dan terharu. Sudah lama kami tidak menyaksikan wayang kulit di kampung sendiri. Semoga acara seperti ini bisa terus dilestarikan,” ungkap Pak Mujiono, salah satu tokoh masyarakat.
Generasi muda pun tak kalah antusias. Banyak pelajar yang hadir dan mengabadikan momen tersebut melalui gawai mereka. Bahkan, beberapa siswa SMA setempat dilibatkan sebagai panitia teknis dan dokumentasi, sebagai bagian dari pengenalan budaya lokal.
Membangun Kampung Lewat Kebudayaan
Selain pertunjukan wayang kulit, perayaan HUT ke-46 Kampung Bawang Sakti Jaya juga diisi dengan berbagai kegiatan lainnya, seperti lomba-lomba tradisional, bazar UMKM, senam sehat, dan malam tasyakuran. Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat kebersamaan, membangun semangat gotong royong, serta memberdayakan potensi lokal.
Kepala Kampung Supriyono menegaskan bahwa pembangunan kampung tidak hanya diukur dari infrastruktur semata, tetapi juga dari kekuatan identitas budaya dan sosial masyarakatnya.
“Kalau jalan mulus tapi masyarakatnya kehilangan jati diri, maka pembangunan belum tuntas. Justru budaya inilah yang akan menjaga kita tetap kuat, berakar, dan bermartabat,” tegasnya.
Penutup
Peringatan HUT ke-46 Kampung Bawang Sakti Jaya tahun ini menjadi momentum penting dalam upaya membangun kesadaran budaya di tengah masyarakat. Dengan menghidupkan kembali pertunjukan wayang kulit, Kepala Kampung Supriyono tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyuarakan nilai-nilai luhur bangsa yang tak lekang oleh waktu.
Semoga semangat pelestarian budaya seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di seluruh Indonesia.